MERAH MARAH-MARAH DI INDUK PASAR
(belasungkawa dibakarnya Pasar Induk Cianjur)
Pagi-pagi buta
Merah singgah di pasar kami
dengan marah-marah
Cakap hansip,
Merah awalnya hendak bertamu lebih siang
pada jam 13 lah kira-kira
biar agak sopan dan tidak merepotkan
juga agar tidak teramat rakus pada susuguh
biar lebih kekeluargaan.
Ini kan hal yang riskan.
Tapi seisi pasar sangsi
Pada -yang katanya- kekeluargaan ini
kemudian niat Merah
diludahi mentah-mentah
dengan guyonan pongah
Ludah mereka lalu menukik
mendarat, tiba, dan hinggap di dagu sang Merah
Sontak saja ia murka
dan menyobek berbundel-bundel kertas kekeluargaan
yang mestinya menjadi topik bercakap
Agar penghuni pasar mau mengecap.
Sekarang Merah meramu cara meracik licik;
Dipanggilnya Bensin,
Dikonteknya Zippo,
Angin dikabari,
Damkar diamplopi,
Selokan dikuras dan disurutkan,
Kemudian memandati berkotak-kotak batang korek.
Mereka kini bersekongkol
Merah bakal jadi aktor menonjol
Di masing-masing jidatnya muncul tanduk serupa Piccollo
Tanda leburnya belas kasihan.
“kita harus main cantik”
Tekan Merah menguatkan mental pasukan
“nila setitik rusak susu sebelanga, tidak musti harus terjadi”
Merah mengepalkan tinju amat Pede.
Dua dini hari
Merah yang dilumur Bensin
dipelantingkan angin ke tengah induk pasar
Ia berguling-guling menggelinjang
Dari sakunya,
berloncatan korek yang pura-pura terbakar
meloncat kesana-kemari.
baru saja jam berdetak beberapa degup
merah sudah jumawa saja ongkang-ongkang kaki
dikipasi angin.
Sayur hasil panen
Jadi gagal jual
Sembako hangus bersama toko
Kelontong melolong minta tolong
Penghuni pasar kaweur
Beradu badan berpunggu dagu
Tangis tumpah ruah
di segala sudut.
Ada yang mengumpat,
Ada yang berteriak
Ada juga yang menonton saja
-lu kire sepak bola-
Sedang Damkar
yang tepat waktu untuk telat
bercakap
“jalanan macet, dan sungai daerah sini jauh sekali”
Alah, bilang saja segala sudah terkonsep, Bung!
(27 Agustus 2013)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar