Jumat, 22 Januari 2016

MASTER OF CEREMONY

MASTER OF CEREMONY
OLEH
AHMAD GINANJAR

     Tidak dapat disangkal lagi kalau kata Master of Ceremony lebih tenar daripada kata Pembawa Acara. Terbukti kalau kekerapan kata Master of Ceremony—yang juga tenar disingkat MC—lebih sering dipergunakan daripada kata Pembawa Acara. Dalam acara pernikahan, khitanan, pesta ulang tahun, hingga nama salah satu mata kuliah dalam jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia pun memakai MC (Master of Ceremony), bukan mata kuliah Pembawa Acara. Memang dalam hati (sebagian) orang Indonesia, bahasa Inggris lebih berwibawa dibandingkan dengan bahasa Indonesia.
     Saya pernah disalahkan ketika menyingkat-baca Master of Ceremony dengan /em-si/, sebab katanya harus dilafalkan /em-ce/. Meskipun itu merupakan kata murni dari bahasa Inggris, tapi ketika disingkat kata tersebut (katanya) harus dilafalkan secara Indonesia.
     Aturan yang ada bahwa jika singkatan haruslah dilafalkan dalam abjad Indonesia, tanpa mempedulikan bahasa asal kata-kata yang termuat dalam singkatan tersebut. Misalnya singkatan WHO, HP, IMF, HP, COD, dan WBA yang meskipun murni singkatan bahasa Inggris, tapi dilafalkan dalam abjad Indonesia.
     Namun, untuk beberapa singkatan yang juga berasal dari bahasa Inggris, kita terbiasa melafalkannya secara Inggris saja. Misalnya singkatan CD, DVD, VCD, CIA, CV, TV, dan CPU. Biasakah kita melafalkannya dengan /ce-de/, /de-ve-de/, /ve-se-de/, /ce-i-a/, /ce-ve/, dan /te-ve/? Saya berkeyakinan, kalau kita secara spontan akan melafalkannya: /si-di/, /di-vi-di/, /vi-si-di/, /si-ai-ei/, /si-vi/, /ti-vi/, dan /se-pe-u/. Sebab memang begitulah kita biasa mengucapkannya.
     Di samping itu, akronim—yang dalam KBBI (2008:29) berarti kependekan yang berupa gabungan huruf atau suku kata yang ditulis dan dilafalkan sebagai kata wajar—mesti dilafalkan sesuai dengan bahasa asalnya. Misalnya akronim UNESCO, harus dilafalkan /yu-nes-ko/, UNICEF harus dilafalkan /yu-ni-sef/.
    Dikorek-korek lagi, ternyata ada juga singkatan yang murni berasal dari kata Inggris tapi dilafalkan setengah-setengah. Artinya sebagian hurufnya dilafalkan abjad Indonesia, sebagian lagi dilafalkan abjad Inggris. Misalnya singkatan AC dan TBC yang biasa dilafalkan /a-se/ dan /te-be-ce/. Huruf A dari AC dilafalkan Indonesia, sedangkan huruf C dilafalkan Inggris. Begitupun singkatan TBC yang dilafalkan setengah Indonesia setengah Inggris.
    Kaidah ejaan kita melulu berfokus pada aturan penulisan saja, sedangkan untuk pelafalan dan dialek dalam tuturan tidak diatur se-sistematis masalah tulisan. Misalnya kata “peka” bisa diucapkan dengan beragam. Ada yang membaca peka seperti /e/ pada kata lemas, dan péka dengan /e/ tajam seperti pada kata lempar. Sebab bahasa huruf /e/ yang satu-satunya dalam bahasa Indonesia, memiliki bunyi lebih dari satu. Akan tetapi, tak ada ciri cara membedakannya, kecuali dengan membuka kamus.
     Tujuan disusunnya sistem bahasa adalah untuk membuat seragam dalam berbahasa, lebih-lebih dalam suasana resmi. Namun, sekalipun kaidah ragam tulis kita diseragamkan dengan diaturnya EYD, tapi ternyata ragam lisan kita masihlah beragam.

Minggu, 10 Januari 2016

Masa (yang tak) Kecil

    Masa kecil hanyalah dua hal : dirindukan atau dilupakan. ‘Dirindukan’ sebab masa kecil adalah ruang waktu bahwa hidup sangatlah mudah. Menghirup napas lalu menghembuskannya kembali. Tanpa sengal. Tanpa tersendat-sendat (seperti saat ini). Segala yang saya mau tinggal cemberut saja lalu apapun yang saya mau akan berpindah pada tangan saya. Segala hal jelma dengan sedikit rajukan dan rengekan. Andaikata susah-susah amat mendapatkannya, ya… menangis sejadi-jadinya sambil ngesot (baca: kokosodan). Nanti juga dikabulkan.
    Kemudian ‘dilupakan’ bahwa masa kecil (kira-kira 7 atau 9 tahunan) adalah masa berkombinasinya kepayahan dan keculunan (atau kelucuan?). Saya payah dalam hal-hal di luar pelajaran sekolah (meskipun hal-hal dalam pelajaran sekolah tidak jago-jago amat juga). Hal-hal semacam menggaet wanita, balap lari, mancing, berenang di wahangan, paling boyot meloncati pagar empunya jambu batu, paling keok balapan tamiya, hanya jadi figuran kalau-kalau sesi rumah tangga-rumah tanggaan, dan banyak lagi.
    Culun memang culun. Umuran puber adalah masa tingkat kepedean saya berada pada titik paling rendah, atau bisa dikatakan berada pada koordinat jenuh (titik jenuh). Gaya rambut –yang kata si bapak—potongan mandarin. Yang saban habis dipotong rambut saya kerap kehilangan cambang pede. Sebab gaya rambut ini memang membabat habis rambut samping dan belakang. “Tuh pan siga Andy Lau  kieu mah” celetuk bapa saya ngupahan sebab saya suka cemberut-buta saban habis diparas begitu. Lebih-lebih karena rambut saya mengkilat bagai kilat sehabis diolesi Brisk.  Anehnya, setiap akan dicukur saya suka diamplopi duit, maklumlah sudah tahu pasti jelek ya mending milih kabur. Daripada susah cari, mending kasih cebu. Deal.
Cukup dengan rambut saya. Turun ke bawah. Wajah saya oval, bulat tapi agak sedikit kotak (saya juga bingung), dengan mata sipit-sipit siput, dan gigi seri depan yang raib ticatrok tiang gawang sewaktu main bola berhujan-hujan.. Kalau senyum, jadi mirip-mirip pak Tile begitu. Jadi, kalian bisa berhipotesis tentang air muka jadul saya. Tanpa perlu riset atau meneliti fosil saya terlebih dulu.
    Masih keculunan (emang ada kerennya? Nihil!) saya. Badan saya di masa lalu agak subur, gempal tapi lincah dan gesit seperti Honda Blade. Hanya tinggi saya kurang ideal dengan berat badan tersebut. Maka jadilah julukan buntet tersemat pada diri ini. Kejamnya, yang melantik saya dengan julukan tersebut adalah kakak saya bersama antek-anteknya (baca: masih kakak saya). Meskipun ada satu sisi diri saya yang ingin membenci masa-masa ini, namun seutuhnya saya mencintai masa-masa kecil saya.
    Hari pertama masuk SD, saya sempat kesal , tidak terima, dan mogok untuk masuk sekolah. Alasannya sepele. Saya hanya iri ketika kawan-kawan saya berangkat sekolah diantar mamanya, emaknya, ibunya, ibundanya, mamihnya, atau uminya tapi saya tidak. Saya malah diantar teteh saya yang kebetulan masuk sekolah siang. Setelah diberi pengertian bahwa mama harus ke pasar belanja sayuran dan dijual di warung depan rumah, jadi tidak bisa mengantar, barulah saya mau berangkat. Itupun dengan minta jajan tambahan. Sialnya saya belum pernah diantar mama seperti kebanyakan kawan. Mungkin ini alasan saya jadi agak peka dan sedikit cengeng (nguping cerita teteh). Teteh bercerita kalau tidak ada mukanya mendongak di mulut jendela, saya menangis. Kalau pensil saya patah, saya menangis. Kalau ditanya oleh guru hal mudah dan tidak bisa menjawab (misal: “apa tadi pagi mandi?”), saya menangis. Dan katanya masih banyak kecengengan-kecengengan saya yang menurut saya ini terlalu dilebih-lebihkan. Terlalu dibikin drama. Walaupun saya membenarkan pada akhirnya.
    Satu-satunya waktu yang ditunggu-tunggu sewaktu sekolah adalah jam pulang. Sebab selepas dari sekolah saya bersama kawan-kawan saya kerap menuju wahangan terdekat dan terfavorit. CB atau Curug Benda. LA atau Leuwi Aceng. Adalah referensi vakansi saya bersama kawan. Di sana kami berenang, meski sebenarnya saya satu-satunya orang yang hanya berendam saja dan tak pantas disebut berenang. Setelah puas biasanya kami berjalan pulang sambil-sambilan. Sambil meminta jambu batu dengan sembunyi-sembunyi (pasti paham), sambil melempar surat lipat kepada “si ehmm” yang berisi “Atos ngaos, ulah waka uih nya, Anjar gaduh jambu batu seueur. Ttd. Anjar”. Artinya ajakan untuk kencan ala bocah ingusan.
    Sehabis mengaji magrib, saya pulang dan si ehm belum pulang. Artinya, si cantik sudah membaca surat tadi siang yang saya lempar ke ventilasi kamarnya. Ventilasi kamarnya berada di pinggiran gang sekitar rumahnya. Jadi mudah untuk mengirim surat. Dulu, zaman saya kecil, handphone belum hinggap di hidup kami. Dan surat, menurut saya adalah alat komunikasi purba yang unik yang penuh kesan. Apalagi berkirim-kabar sama si pacar. Romantis. Anak kecil sekarang, bocah SD sudah dibekali gadget oleh emak-abahnya, kecilnya mereka diberi android. Pedekatena paling lewat SMS, kagak ada kesan romantisnya. Kasihan.
    Di kampung saya ada pengusaha bakso, yang saban hari pasti lewat depan rumah saya sambil menggembol ratusan biji bakso. Yang saban hari juga saya bersama geng jagoan neon menadah jatah (minta) sebagai bea cukai. Setiap libur saya dan geng juga kerap menumpang becak yang lalu-lalang lewat kampung kami. Lepas naik dan diturunkan, pulang lagi jalan kaki, numpang lagi, begitu lagi. Tentunya saat becak masih menjadi primadona.
Atau juga menjahili Mang Engkos, penjaga matrial dekat gapura gang saya. Menjahilinya cukup gampang. Mang Engkos itu pemarah. Jadi dengan melempar ular-ular karet, mengambil kabur gerobak semen, atau menculik jaket Levi’s-nya pun kita akan dikejarnya sampai mampus. Beberapa tahun silam Mang Engkos meninggal dunia. Semoga beliau memaafkan kami juga ditempatkan di tempat yang paling baik di sisiNya. Dan tidak menghantui karena ulah kami yang kalau frustasi dikejar suka berteriak “kokoooossaaaaan….”. Aamiin. Kokosan adalah buah semacam duku, namun rasanya asem-asem manis. Saya kira, kokosan berasal dari basa Sunda.
    Menuju sore, ada yang selalu saya tunggu setiap Senin-Jumat pukul 15, yaitu serial ninja Jiraiya. Tokoh favorit saya. Ninja beseragam merah yang punya jurus andalan “Pedang Cahaya Kemilau!” yang sudah pasti setelah ini monsternya akan tewas juga memastikan tayangan ini akan berakhir. Jiraiya menginspirasi saya bercita-cita menjadi ninja, meskipun lambat laun cita-cita itu kandas di rerumputan. Saya sering menonton sembari menikmati sajian nasi aron. Yaitu nasi sisa yang dijemur hingga kering membeling lalu digoreng sampai mengembang. Ditaburi Masako dan dinikmati bersama teh manis hangat.
    Masuk malam, adalah waktu senang-senang susah. Sebab pada jam-jam ini saya tidak boleh dulu tidur sebelum belajar membaca dan menghitung. Itupun tidak cukup. Sebab setidaknya saya harus mampu menghapal minimal 5 abjad dan dua raraban. Kalau tidak cubitan mamah yang manis akan menimbulkan tanda love di pipi saya. Senangnya, setelah belajar, saya boleh meminta dibelikan barang di pasar (yang terjangkau tentunya) atau memesan menu makan untuk besok.
    Begitulah, masa kecil saya adalah masa kecil yang keras-lembek. Keras karena lingkungan saya menuntut menjadi batu di tengah kali. Tidak boleh mudah terkikis, goyah atau bahkan mudah terbawa arus secara paksa. Salah satunya dengan cara belajar saya di atas. Lembek karena emak saya-lah yang membuat hati saya selembek Hun Kwe. Menjadikan hati saya dibiarkan menjadi masinis tubuh. Kalau bisa ia menghendaki perasaan saya menjadikan tuan bagi logika saya. Untung saja saya berontak. Saya bilang “Macam itu serupa betina, Mak!”.
    Masa kecil adalah hari-hari tanpa hitam. Seperti main perosotan pada pelangi setiap waktu. Setiap mau. Jungkat-jungkit di kerajaan awan bikinan sendiri, atau seperti berkubang di genangan hujan saban detik. Sebab segala hal macam indah untuk dikerjakan.
    Masa kecil saya berbeda dengan masa sekarang. Digital ada dimana-mana. Kuno dianggap primitif dan purba. Sekarang musti modern. Musti canggih. Musti serba instan,  cepat saji dan serta-merta. Yang padahal sebenarnya itulah yang mengikis nilai-nilai budaya dan adat kita.
    Meski banyak kepayahan dan keculunan di masa kanak saya, saya bersumpah. Hari ini, saya amat sangat rindu sekali pada masa kecil yang kental dengan kepongahan, keluguan, kepolosan, adat-istiadat, gotong royong, saling menghargai dan saling percaya. Saya rindu.
    Tiba-tiba hujan deras di pelataran dada saya.

Ditulis di Cianjur, 19 September 2013

Minggu, 03 Januari 2016

The Walker

from north,
the walker hasn’t die to walk yet
he broke many wet
he fight all upset

the walker just know the south
really doesn’t want to shout
he just want to walk
with all his day

nobody he want to come with
cause he loves the loneliness much

too much speech is useless
too much laugh is careless

he just want to walk
although it’s going to dark

it doesn’t matter
cause all his ideas are the lamp, the center!
He’ll never lost the light
his face is the moonlight
his heart is the sunlight
it’s so enough making brights
for all around him too

while he’s walking
he find many things.
everything:
hunger, illusion, the slash of sword,
a warm gun, love, sadness, and hoping.

he believe in the journey
cause mama said so
“walk, walk, and walk!
until i die, you die, they die, we all die”
Then all we say, “bye bye!”

cause he’s the walker
he just wanna stalk
‘til all gonna be stuck.

(Cianjur, 2014)




Rabu, 04 Maret 2015

Artikel Ahmad Ginanjar, Pikiran Rakyat 16 Maret 2013

Wow Ada Bulé!
Oleh:
Ahmad Ginanjar


               Seperti yang sudah kita ketahui bahwa Indonesia memiliki banyak daya tarik untuk mendatangkan pengunjung. Tidak terkecuali pengunjung dari luar negeri. Dengan begitu, di Indonesia beredar dua jenis orang: pribumi dan orang asing. Orang asing? Begitukah sebutan orang selain pribumi Indonesia?
               Sebenarnya, kita mempunyai beberapa istilah untuk menyebut orang-orang selain pribumi. Terlepas dari tujuan mereka untuk berkunjung, berlibur, sekolah, bahkan menetap di Indonesia. Kita mengenal istilah orang asing dan bulé.
           Dalam penggunaannya, istilah orang asing secara luas dipakai karena dianggap lebih sopan dibandingkan dengan kata bulé yang terkesan menyindir bahkan cenderung menghina meskipun kita sebagai penuturnya tidak menyadari hal tersebut.
            Walaupun istilah orang asing terasa sopan, tetapi istilah ini tidak mungkin dipakai selamanya. Maksud “selamanya” di sini adalah kebergantungan terhadap kondisi. Bayangkan saja, bagaimana mungkin seseorang yang berasal dari luar negeri lalu ia menghabiskan hidupnya di Indonesia, bahkan memutuskan menjadi warga negara Indonesia, tapi masih saja disebut “asing”?  Bukankah keterlaluan kalau kita menyebutnya asing sedangkan kita sudah mengenalnya akrab orang tersebut?
             Penggunaan kata asing dalam istilah orang asing, sepertinya bertujuan untuk memberi pemisah antara pribumi dan pendatang. Ini memang agak tidak mengenakkan. Lebih-lebih, kata asing tidak tepat digunakan untuk seseorang yang sudah tidak asing lagi. Misalnya, katakanlah saya seorang pribumi beristrikan seorang pendatang dari Inggris. Apakah saya harus menyebut istri saya dengan “orang asing”? Padahal istri saya adalah orang yang paling dekat dan akrab sepanjang waktu. Jadi, agaknya orang asing kurang cocok dipakai untuk seseorang yang berasal dari luar negeri yang sudah lama menetap dan akrab sekali dengan kita.
               Ada lagi kata bulé yang dipakai untuk menyebut seseorang yang berasal dari Eropa atau Amerika. Di televisi kata ini biasa tampil sebagai sesuatu yang khas dan pasti. Sebab sudah tentu akan ada orang luar negeri berkulit putih yang muncul serempak dengan kata bulé itu ditampilkan atau diucapkan.
             Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi keempat (2008), bulé berasal dari kata bulai yang berarti ‘orang (binatang dsb) berkulit putih; orang kulit putih (terutama orang Eropa dan Amerika; orang barat’.
            Kesimpulan dari pengertian yang terdapat dalam KBBI tersebut, bahwa bulé bisa dipakai untuk manusia maupun untuk binatang yang berkulit putih. Maka jelaslah letak sindiran yang terlontar jika kita menggunakan kata ini—kalau merujuk pengertian nomor satu—kepada manusia. Bulé adalah sebutan untuk orang Eropa dan Amerika yang berkulit putih. Jadi, orang yang berasal dari Asia atau Afrika yang datang ke Indonesia tidak bisa disebut bulé. Kalau orang itu berkulit gelap, sekalipun berasal dari Eropa atau Amerika, tidak bisa disebut bulé. Simpulan terakhir bahwa bulé adalah orang barat. Maka orang timur, selatan, atau utara yang datang ke Indonesia tidak bisa disebut bulé. Setidaknya ini kesimpulan yang terdapat dalam pernyataan buku pedoman kata bahasa kita (baca: KBBI)
             Sebenarnya, kata bulé atau bulai dipakai untuk menggambarkan seseorang (juga binatang—menurut KBBI—) yang memiliki kelainan pigmen kulit alias albino. Walaupun sebenarnya tidak semua orang bulé benar-benar albino. Kulit mereka hanya cenderung terang lalu berubah kemerahan kalau terkena sinar matahari.
Kalau begitu, istilah apa yang tepat untuk menyebut seseorang yang bukan dari Amerika atau Eropa yang datang ke Indonesia? Atau orang Amerika atau Eropa tapi tidak berkulit putih, apa sebutannya?
              Bagaimana kalau kita menggunakan kata pendatang saja? Barangkali bisa mewakili sebutan semua orang yang datang ke Indonesia dari negara manapun asalnya.
            Akan tetapi setelah dipikir-pikir, kata pendatang ini juga ada kendalanya. Kata pendatang merujuk pada seseorang yang baru saja datang dan belum lama menetap. Lalu bagi seseorang yang datang, menetap, berkeluarga dan memiliki anak di Indonesia, apa masih harus disebut pendatang? Apakah anaknya juga disebut pendatang juga? Atau sebutan bulé serta-merta melekat pada anak tersebut sejak dari lahir?
            Semoga ada kata untuk menyebut “mereka” tanpa harus melihat warna kulit dan asal-usul “mereka” serta tidak terkesan menyindir atau menghina.

Sajak Sunda Ahmad Ginanjar

Pamungkas Carita

Eurenan sumpay-sampay kakangen
mulat-meulit ramat kaasih
dina masing-masing ati

Bongan
Rusiah geus silih témbong
ngendagkeun kajempling
nu ngahaja disalindung imeut
ku salira salila ieu

Rusiah anu geuning murubutkeun
Sagala kacindék ati
Rusiah anu geuning mangpengkeun
Loba lamunan
anu kapungkur digeugeut paheut

Sugan téh rék lana ieu lalakon
nepi bareng mipir pikir
mapay gawir panungtung ahir

Tapi keundae, méméh eurih leuwih peurih
méméh remen ngétang kabimbang
mending peundeut ieu kamalir
urang pungkas ieu cumarita
da enya, mending dipungkas

Kami pamit rék néang simpé,
lebah karaheut
Kami moal pakumaha
Da geus baal kapeurih
Jeung kami mah kapan pohoan

Alatan nu ngagukguk mah kami
Sedeng salira moal bakal segruk-segruk acan.

(2013)


Tilu Welas Padalisan Kasono

Sonten nu kumaha deui
Méh kami teu beakeun gupay
Nu héman lumampay saparat palay

Girimis satiris kumaha deui
Sangkan kami getol susulumput
Kana simbut anu imut

Tapi aéh, kumaha-kumaha ogé
Da anjeun moal rek pakumaha
Paling ogé nganaha-naha
Gumalideur teu paham

Yeuh, ulah réa ku pananya deui
baturan ieu kuring
Ngeunteung anteng dina sono.

(2013)


Sajak Kasimpé

Aya anu can kedal
sawatara gunem nu gumuruh
sajeroning simpé

Gunem ieu baris pasalia
dina tepas dada
Récét ucrat-acrét
karasa beuki cérét

Mung anggeur
Baris teu waya luber

Emh, deudeuh
Langit keur leungiteun
Girimis beuki gumeulis
Mupuas simpé nu beuki jempé.

Kapan geugeut
Kedah digugah lain?

Tapi kuring can wasa.
Atawa ulah ku nu kawasa?

(2013)


(Pikiran Rakyat, 15 Desember 2013)

"Gara-gara Merek"--Ahmad Ginanjar, di Rubrik Wisata Bahasa Pikiran Rakyat 24 November 2013

Gara-gara Merek
Oleh:
 Ahmad Ginanjar
 
            Waktu saya duduk-duduk di kantin kampus, ada pembeli minta dilayani pemilik kantin. Dia berbicara, “Pak, beli Aqua botol”. Si bapak kantin menyodorkan air mineral dengan merek ‘Aqua’. Si pembeli bilang, “Yang itu saja Pak. Yang biasa, jangan Aqua”. Saya cengengesan. Kemudian saya berpikir yang dimaksud ‘Aqua’ oleh si pembeli adalah air mineral apa saja, tapi bukan yang bermerek ‘Aqua’ (karena harganya paling mahal).
                 Menurut KBBI (2008), merek adalah tanda yang dikenakan oleh pengusaha (pabrik, produsen, dsb) pada barang yang dihasilkan sebagai tanda pengenal. Jika tujuan merek untuk menjadikan sebuah produk terkenal, maka misi itu berhasil (pada beberapa merek produk). Mengingat kedahsyatan penggunaan nama beberapa benda karena penyebutan mereknya mampu bertahan hingga bertahun-tahun dan orang-orang sepakat mengerti.
            Dalam bahasa Indonesia banyak kosakata yang terlahir dan terkenal gara-gara penyebutan mereknya. Sebuah benda dinamai bukan berdasarkan nama asli dari benda itu, melainkan berdasarkan kekerapan orang-orang menyebutkan merek produknya. Seperti air mineral, kita biasa menyebutnya aqua karena merek air mineral yang pertama muncul di Indonesia pada tahun 1984 (-sampai sekarang) adalah merek ‘Aqua’. Pedagang asong di halte, stasiun, terminal, dan pelabuhan yang menawarkan, “Aqua! Aqua! Aqua, Bu” padahal kadang yang ditawarkan bukanlah merek Aqua. Meskipun aqua berarti ‘air’, namun kata tersebut berasal dari bahasa Inggris, bukan dari bahasa Indonesia karena tidak terdapat dalam KBBI.
            Kita menyebut ‘odol’ untuk mengacu pada pasta gigi. Padahal ‘ODOL’(dalam tulisan asli) adalah merek pasta gigi pertama pabrikan Jerman yang beredar di Indonesia pada zaman penjajahan Belanda. Meski produk tersebut tidak lagi diproduksi, namun lidah kita terlanjur lentur menyebut pasta gigi sebagai odol. Untungnya orang-orang paham yang kita maksud dengan ‘odol’. Mungkin karena kekerapan penggunaan kata odol ini di masyarakat, menjadi alasan kata ini tercantum dalam KBBI edisi keempat tahun 2008.
              Kita juga terbiasa menyebut celana berbahan kain katun kasar yang tahan lasak dan berlarik-larik dengan sebutan ‘levis’. Padahal jika kita lihat sejarahnya, Levi’s (dalam tulisan aslinya) adalah nama merek celana karya Levi Strauss yang awalnya diperuntukkan bagi para penambang di California, Amerika Serikat. Adapun nama bahan celananya disebut denim. Dengan kata lain ‘levis’ merupakan merek celana (Levi’s), bukan nama bendanya. Tetapi, apapun mereknya, kita menyebutnya levis. Karena sudah mendarah daging mungkin. Kata levis tidak terdapat dalam KBBI (2008), namun kata denim terdapat di dalamnya.
             Ketika ke warung kita biasa membeli ‘Masako’ untuk mengacu pada bumbu penyedap masakan, dan penjualpun pasti langsung mengerti yang kita maksud. Coba bayangkan alangkah belibet jika kita membeli bumbu dapur bubuk tersebut tanpa menyebutkan ‘Masako’. Satu kata apa yang harus kita sebutkan dan mewakilinya?
               Di sektor teknologi juga menyerap kata dari merek dagangnya. Salahsatunya kita mengenal ‘toa’, alat pengeras suara yang biasa terpasang di kubah mesjid atau ditengteng demonstran ketika berorasi. Apapun mereknya, benda pengeras suara yang menyerupai telinga itu kita sebut toa. Padahal ‘TOA’ (dalam nama aslinya)  adalah salah satu merek dari alat pengeras suara.
            Menanggapi fenomena bahasa ini, kita tidak perlu aneh. Bahasa bersifat arbitrer (mana suka) dalam hal penamaan benda. Kemudian nama benda itu dikonvensionalkan (disepakati) dalam penggunaannya. Kita menyebut ‘kursi’, benda untuk duduk yang berkaki empat dan bersandaran. Tidak ada alasan pasti dalam penamaannya. Hal yang pasti adalah setiap orang (di Indonesia) sepakat benda semacam itu disebut kursi. Inilah yang dimaksud arbitrer dan konvensional dalam bahasa. Hakikat sebuah kata adalah untuk menjelaskan sebuah konsep atau benda yang sama-sama dipahami baik oleh pembicara maupun lawan bicara.
            Fenomena bahasa ini berdampak dua sisi. Pada satu sisi kita dimudahkan dengan penggunaan kata-kata yang sederhana untuk menunjuk sesuatu dan dipahami oleh kebanyakan orang. Pada sisi lain, secara tidak langsung kita mengiklankan produk tanpa dibayar. Sementara produk yang bersangkutan semakin terkenal seiring mereknya kita bicarakan. Untungnya dari merek-merek di atas, hanya Odol yang tercantum dalam KBBI. Mungkin perumus KBBI tidak mau dituding berpromosi. Tidakkah rugi menjajakan produk tanpa dibayar?
Jadilah Dulu Remaja, Dul

Ini kali sekian
Aku bersaksi tentang kematian
yang gila makan,
yang menjadikan ajal sebagai pakan.

Mengenai kebebasan
yang membebaskan para nyawa dari kandangnya;
Memilin pilu kerabat mayat;
Atau membikin emak-abahmu gelagapan

Ini bukan tentang celaka,
Jalanan, atau sekadar sebangun sedan
Aku menyinggung keterbebasan:
hal yang jelma
cuma dengan sedikit rajukan

Pada tiga belas
Tidak segala mesti dapat kau kepal, Dul.
Termasuk hak melenyapkan nyawa
mestinya,
kau sedang lucu-lucunya
Bertanya ini-itu
Belajar hidup
menikmati jiwa bocah yang lugu

Tetap ada batasan, Dul
Meski materi tak berbatasmu
bikin kau melanggar batas.

Sumpah!
Bukan aku iri
Aku Cuma peduli

Sekarang
Sederhanakan saja remajamu.

(2013)

Menghardik yang Bercekikik

Harga naik
Airmata memercik
Peluh berterik
Suara cilik memekik-mekik
Yang ongkang-ongkang bercekikik
Sedang yang lata tercekik-cekik

Ini negeri tidak asyik
Yang atas makin naik
Yang bawah makin pelik
taik!

Konon, kemiskinan ditarik
Tapi fakir makin makan panik
Berseliwuran saling cabik
Sebab saling percaya telah jadi akik

Semoga yang picik
Segera apik
Dan tergetik;
Atau yang lain naik
Ini itu dibidik
dibikin jadi baik
lalu semua hidup laik.

Kita ‘kan hidup cantik.

(2013)

Lantai Dansa

Aku lantai dansa lusuh
dalam ruang tengah milikmu
dibersih-bersih
supaya rapi lagi
buat pesta malam ini

Dengar-dengar kabar
para kaki ‘kan saling melamar
di atasku digelar
tanpa tikar

Dan dirimu bukanlah kecuali

Kata Mami
Kau akan memakai hak tinggi
yang runcing
sebelah tumit
biar agak cekat-cekit
yang barang tentu buat aku sakit
apalagi kalau kau sambil jinjit

akan tetapi
sama sekali
aku takkan nyeri
sebab dengan beginilah
aku denganmu intim
menikmati injakanmu sana-sini

meski dikeroyok injak
tapi yang ‘kan lebih terasa jejalannya
cumalah pijakanmu.

Menarilah dengan anggun
Soal aku kotor dan ngilu
jangan peduli.

(2013)