Jadilah Dulu Remaja, Dul
Ini kali sekian
Aku bersaksi tentang kematian
yang gila makan,
yang menjadikan ajal sebagai pakan.
Mengenai kebebasan
yang membebaskan para nyawa dari kandangnya;
Memilin pilu kerabat mayat;
Atau membikin emak-abahmu gelagapan
Ini bukan tentang celaka,
Jalanan, atau sekadar sebangun sedan
Aku menyinggung keterbebasan:
hal yang jelma
cuma dengan sedikit rajukan
Pada tiga belas
Tidak segala mesti dapat kau kepal, Dul.
Termasuk hak melenyapkan nyawa
mestinya,
kau sedang lucu-lucunya
Bertanya ini-itu
Belajar hidup
menikmati jiwa bocah yang lugu
Tetap ada batasan, Dul
Meski materi tak berbatasmu
bikin kau melanggar batas.
Sumpah!
Bukan aku iri
Aku Cuma peduli
Sekarang
Sederhanakan saja remajamu.
(2013)
Menghardik yang Bercekikik
Harga naik
Airmata memercik
Peluh berterik
Suara cilik memekik-mekik
Yang ongkang-ongkang bercekikik
Sedang yang lata tercekik-cekik
Ini negeri tidak asyik
Yang atas makin naik
Yang bawah makin pelik
taik!
Konon, kemiskinan ditarik
Tapi fakir makin makan panik
Berseliwuran saling cabik
Sebab saling percaya telah jadi akik
Semoga yang picik
Segera apik
Dan tergetik;
Atau yang lain naik
Ini itu dibidik
dibikin jadi baik
lalu semua hidup laik.
Kita ‘kan hidup cantik.
(2013)
Lantai Dansa
Aku lantai dansa lusuh
dalam ruang tengah milikmu
dibersih-bersih
supaya rapi lagi
buat pesta malam ini
Dengar-dengar kabar
para kaki ‘kan saling melamar
di atasku digelar
tanpa tikar
Dan dirimu bukanlah kecuali
Kata Mami
Kau akan memakai hak tinggi
yang runcing
sebelah tumit
biar agak cekat-cekit
yang barang tentu buat aku sakit
apalagi kalau kau sambil jinjit
akan tetapi
sama sekali
aku takkan nyeri
sebab dengan beginilah
aku denganmu intim
menikmati injakanmu sana-sini
meski dikeroyok injak
tapi yang ‘kan lebih terasa jejalannya
cumalah pijakanmu.
Menarilah dengan anggun
Soal aku kotor dan ngilu
jangan peduli.
(2013)
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapus