Rabu, 04 Maret 2015

Artikel Ahmad Ginanjar, Pikiran Rakyat 16 Maret 2013

Wow Ada Bulé!
Oleh:
Ahmad Ginanjar


               Seperti yang sudah kita ketahui bahwa Indonesia memiliki banyak daya tarik untuk mendatangkan pengunjung. Tidak terkecuali pengunjung dari luar negeri. Dengan begitu, di Indonesia beredar dua jenis orang: pribumi dan orang asing. Orang asing? Begitukah sebutan orang selain pribumi Indonesia?
               Sebenarnya, kita mempunyai beberapa istilah untuk menyebut orang-orang selain pribumi. Terlepas dari tujuan mereka untuk berkunjung, berlibur, sekolah, bahkan menetap di Indonesia. Kita mengenal istilah orang asing dan bulé.
           Dalam penggunaannya, istilah orang asing secara luas dipakai karena dianggap lebih sopan dibandingkan dengan kata bulé yang terkesan menyindir bahkan cenderung menghina meskipun kita sebagai penuturnya tidak menyadari hal tersebut.
            Walaupun istilah orang asing terasa sopan, tetapi istilah ini tidak mungkin dipakai selamanya. Maksud “selamanya” di sini adalah kebergantungan terhadap kondisi. Bayangkan saja, bagaimana mungkin seseorang yang berasal dari luar negeri lalu ia menghabiskan hidupnya di Indonesia, bahkan memutuskan menjadi warga negara Indonesia, tapi masih saja disebut “asing”?  Bukankah keterlaluan kalau kita menyebutnya asing sedangkan kita sudah mengenalnya akrab orang tersebut?
             Penggunaan kata asing dalam istilah orang asing, sepertinya bertujuan untuk memberi pemisah antara pribumi dan pendatang. Ini memang agak tidak mengenakkan. Lebih-lebih, kata asing tidak tepat digunakan untuk seseorang yang sudah tidak asing lagi. Misalnya, katakanlah saya seorang pribumi beristrikan seorang pendatang dari Inggris. Apakah saya harus menyebut istri saya dengan “orang asing”? Padahal istri saya adalah orang yang paling dekat dan akrab sepanjang waktu. Jadi, agaknya orang asing kurang cocok dipakai untuk seseorang yang berasal dari luar negeri yang sudah lama menetap dan akrab sekali dengan kita.
               Ada lagi kata bulé yang dipakai untuk menyebut seseorang yang berasal dari Eropa atau Amerika. Di televisi kata ini biasa tampil sebagai sesuatu yang khas dan pasti. Sebab sudah tentu akan ada orang luar negeri berkulit putih yang muncul serempak dengan kata bulé itu ditampilkan atau diucapkan.
             Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi keempat (2008), bulé berasal dari kata bulai yang berarti ‘orang (binatang dsb) berkulit putih; orang kulit putih (terutama orang Eropa dan Amerika; orang barat’.
            Kesimpulan dari pengertian yang terdapat dalam KBBI tersebut, bahwa bulé bisa dipakai untuk manusia maupun untuk binatang yang berkulit putih. Maka jelaslah letak sindiran yang terlontar jika kita menggunakan kata ini—kalau merujuk pengertian nomor satu—kepada manusia. Bulé adalah sebutan untuk orang Eropa dan Amerika yang berkulit putih. Jadi, orang yang berasal dari Asia atau Afrika yang datang ke Indonesia tidak bisa disebut bulé. Kalau orang itu berkulit gelap, sekalipun berasal dari Eropa atau Amerika, tidak bisa disebut bulé. Simpulan terakhir bahwa bulé adalah orang barat. Maka orang timur, selatan, atau utara yang datang ke Indonesia tidak bisa disebut bulé. Setidaknya ini kesimpulan yang terdapat dalam pernyataan buku pedoman kata bahasa kita (baca: KBBI)
             Sebenarnya, kata bulé atau bulai dipakai untuk menggambarkan seseorang (juga binatang—menurut KBBI—) yang memiliki kelainan pigmen kulit alias albino. Walaupun sebenarnya tidak semua orang bulé benar-benar albino. Kulit mereka hanya cenderung terang lalu berubah kemerahan kalau terkena sinar matahari.
Kalau begitu, istilah apa yang tepat untuk menyebut seseorang yang bukan dari Amerika atau Eropa yang datang ke Indonesia? Atau orang Amerika atau Eropa tapi tidak berkulit putih, apa sebutannya?
              Bagaimana kalau kita menggunakan kata pendatang saja? Barangkali bisa mewakili sebutan semua orang yang datang ke Indonesia dari negara manapun asalnya.
            Akan tetapi setelah dipikir-pikir, kata pendatang ini juga ada kendalanya. Kata pendatang merujuk pada seseorang yang baru saja datang dan belum lama menetap. Lalu bagi seseorang yang datang, menetap, berkeluarga dan memiliki anak di Indonesia, apa masih harus disebut pendatang? Apakah anaknya juga disebut pendatang juga? Atau sebutan bulé serta-merta melekat pada anak tersebut sejak dari lahir?
            Semoga ada kata untuk menyebut “mereka” tanpa harus melihat warna kulit dan asal-usul “mereka” serta tidak terkesan menyindir atau menghina.

Sajak Sunda Ahmad Ginanjar

Pamungkas Carita

Eurenan sumpay-sampay kakangen
mulat-meulit ramat kaasih
dina masing-masing ati

Bongan
Rusiah geus silih témbong
ngendagkeun kajempling
nu ngahaja disalindung imeut
ku salira salila ieu

Rusiah anu geuning murubutkeun
Sagala kacindék ati
Rusiah anu geuning mangpengkeun
Loba lamunan
anu kapungkur digeugeut paheut

Sugan téh rék lana ieu lalakon
nepi bareng mipir pikir
mapay gawir panungtung ahir

Tapi keundae, méméh eurih leuwih peurih
méméh remen ngétang kabimbang
mending peundeut ieu kamalir
urang pungkas ieu cumarita
da enya, mending dipungkas

Kami pamit rék néang simpé,
lebah karaheut
Kami moal pakumaha
Da geus baal kapeurih
Jeung kami mah kapan pohoan

Alatan nu ngagukguk mah kami
Sedeng salira moal bakal segruk-segruk acan.

(2013)


Tilu Welas Padalisan Kasono

Sonten nu kumaha deui
Méh kami teu beakeun gupay
Nu héman lumampay saparat palay

Girimis satiris kumaha deui
Sangkan kami getol susulumput
Kana simbut anu imut

Tapi aéh, kumaha-kumaha ogé
Da anjeun moal rek pakumaha
Paling ogé nganaha-naha
Gumalideur teu paham

Yeuh, ulah réa ku pananya deui
baturan ieu kuring
Ngeunteung anteng dina sono.

(2013)


Sajak Kasimpé

Aya anu can kedal
sawatara gunem nu gumuruh
sajeroning simpé

Gunem ieu baris pasalia
dina tepas dada
Récét ucrat-acrét
karasa beuki cérét

Mung anggeur
Baris teu waya luber

Emh, deudeuh
Langit keur leungiteun
Girimis beuki gumeulis
Mupuas simpé nu beuki jempé.

Kapan geugeut
Kedah digugah lain?

Tapi kuring can wasa.
Atawa ulah ku nu kawasa?

(2013)


(Pikiran Rakyat, 15 Desember 2013)

"Gara-gara Merek"--Ahmad Ginanjar, di Rubrik Wisata Bahasa Pikiran Rakyat 24 November 2013

Gara-gara Merek
Oleh:
 Ahmad Ginanjar
 
            Waktu saya duduk-duduk di kantin kampus, ada pembeli minta dilayani pemilik kantin. Dia berbicara, “Pak, beli Aqua botol”. Si bapak kantin menyodorkan air mineral dengan merek ‘Aqua’. Si pembeli bilang, “Yang itu saja Pak. Yang biasa, jangan Aqua”. Saya cengengesan. Kemudian saya berpikir yang dimaksud ‘Aqua’ oleh si pembeli adalah air mineral apa saja, tapi bukan yang bermerek ‘Aqua’ (karena harganya paling mahal).
                 Menurut KBBI (2008), merek adalah tanda yang dikenakan oleh pengusaha (pabrik, produsen, dsb) pada barang yang dihasilkan sebagai tanda pengenal. Jika tujuan merek untuk menjadikan sebuah produk terkenal, maka misi itu berhasil (pada beberapa merek produk). Mengingat kedahsyatan penggunaan nama beberapa benda karena penyebutan mereknya mampu bertahan hingga bertahun-tahun dan orang-orang sepakat mengerti.
            Dalam bahasa Indonesia banyak kosakata yang terlahir dan terkenal gara-gara penyebutan mereknya. Sebuah benda dinamai bukan berdasarkan nama asli dari benda itu, melainkan berdasarkan kekerapan orang-orang menyebutkan merek produknya. Seperti air mineral, kita biasa menyebutnya aqua karena merek air mineral yang pertama muncul di Indonesia pada tahun 1984 (-sampai sekarang) adalah merek ‘Aqua’. Pedagang asong di halte, stasiun, terminal, dan pelabuhan yang menawarkan, “Aqua! Aqua! Aqua, Bu” padahal kadang yang ditawarkan bukanlah merek Aqua. Meskipun aqua berarti ‘air’, namun kata tersebut berasal dari bahasa Inggris, bukan dari bahasa Indonesia karena tidak terdapat dalam KBBI.
            Kita menyebut ‘odol’ untuk mengacu pada pasta gigi. Padahal ‘ODOL’(dalam tulisan asli) adalah merek pasta gigi pertama pabrikan Jerman yang beredar di Indonesia pada zaman penjajahan Belanda. Meski produk tersebut tidak lagi diproduksi, namun lidah kita terlanjur lentur menyebut pasta gigi sebagai odol. Untungnya orang-orang paham yang kita maksud dengan ‘odol’. Mungkin karena kekerapan penggunaan kata odol ini di masyarakat, menjadi alasan kata ini tercantum dalam KBBI edisi keempat tahun 2008.
              Kita juga terbiasa menyebut celana berbahan kain katun kasar yang tahan lasak dan berlarik-larik dengan sebutan ‘levis’. Padahal jika kita lihat sejarahnya, Levi’s (dalam tulisan aslinya) adalah nama merek celana karya Levi Strauss yang awalnya diperuntukkan bagi para penambang di California, Amerika Serikat. Adapun nama bahan celananya disebut denim. Dengan kata lain ‘levis’ merupakan merek celana (Levi’s), bukan nama bendanya. Tetapi, apapun mereknya, kita menyebutnya levis. Karena sudah mendarah daging mungkin. Kata levis tidak terdapat dalam KBBI (2008), namun kata denim terdapat di dalamnya.
             Ketika ke warung kita biasa membeli ‘Masako’ untuk mengacu pada bumbu penyedap masakan, dan penjualpun pasti langsung mengerti yang kita maksud. Coba bayangkan alangkah belibet jika kita membeli bumbu dapur bubuk tersebut tanpa menyebutkan ‘Masako’. Satu kata apa yang harus kita sebutkan dan mewakilinya?
               Di sektor teknologi juga menyerap kata dari merek dagangnya. Salahsatunya kita mengenal ‘toa’, alat pengeras suara yang biasa terpasang di kubah mesjid atau ditengteng demonstran ketika berorasi. Apapun mereknya, benda pengeras suara yang menyerupai telinga itu kita sebut toa. Padahal ‘TOA’ (dalam nama aslinya)  adalah salah satu merek dari alat pengeras suara.
            Menanggapi fenomena bahasa ini, kita tidak perlu aneh. Bahasa bersifat arbitrer (mana suka) dalam hal penamaan benda. Kemudian nama benda itu dikonvensionalkan (disepakati) dalam penggunaannya. Kita menyebut ‘kursi’, benda untuk duduk yang berkaki empat dan bersandaran. Tidak ada alasan pasti dalam penamaannya. Hal yang pasti adalah setiap orang (di Indonesia) sepakat benda semacam itu disebut kursi. Inilah yang dimaksud arbitrer dan konvensional dalam bahasa. Hakikat sebuah kata adalah untuk menjelaskan sebuah konsep atau benda yang sama-sama dipahami baik oleh pembicara maupun lawan bicara.
            Fenomena bahasa ini berdampak dua sisi. Pada satu sisi kita dimudahkan dengan penggunaan kata-kata yang sederhana untuk menunjuk sesuatu dan dipahami oleh kebanyakan orang. Pada sisi lain, secara tidak langsung kita mengiklankan produk tanpa dibayar. Sementara produk yang bersangkutan semakin terkenal seiring mereknya kita bicarakan. Untungnya dari merek-merek di atas, hanya Odol yang tercantum dalam KBBI. Mungkin perumus KBBI tidak mau dituding berpromosi. Tidakkah rugi menjajakan produk tanpa dibayar?
Jadilah Dulu Remaja, Dul

Ini kali sekian
Aku bersaksi tentang kematian
yang gila makan,
yang menjadikan ajal sebagai pakan.

Mengenai kebebasan
yang membebaskan para nyawa dari kandangnya;
Memilin pilu kerabat mayat;
Atau membikin emak-abahmu gelagapan

Ini bukan tentang celaka,
Jalanan, atau sekadar sebangun sedan
Aku menyinggung keterbebasan:
hal yang jelma
cuma dengan sedikit rajukan

Pada tiga belas
Tidak segala mesti dapat kau kepal, Dul.
Termasuk hak melenyapkan nyawa
mestinya,
kau sedang lucu-lucunya
Bertanya ini-itu
Belajar hidup
menikmati jiwa bocah yang lugu

Tetap ada batasan, Dul
Meski materi tak berbatasmu
bikin kau melanggar batas.

Sumpah!
Bukan aku iri
Aku Cuma peduli

Sekarang
Sederhanakan saja remajamu.

(2013)

Menghardik yang Bercekikik

Harga naik
Airmata memercik
Peluh berterik
Suara cilik memekik-mekik
Yang ongkang-ongkang bercekikik
Sedang yang lata tercekik-cekik

Ini negeri tidak asyik
Yang atas makin naik
Yang bawah makin pelik
taik!

Konon, kemiskinan ditarik
Tapi fakir makin makan panik
Berseliwuran saling cabik
Sebab saling percaya telah jadi akik

Semoga yang picik
Segera apik
Dan tergetik;
Atau yang lain naik
Ini itu dibidik
dibikin jadi baik
lalu semua hidup laik.

Kita ‘kan hidup cantik.

(2013)

Lantai Dansa

Aku lantai dansa lusuh
dalam ruang tengah milikmu
dibersih-bersih
supaya rapi lagi
buat pesta malam ini

Dengar-dengar kabar
para kaki ‘kan saling melamar
di atasku digelar
tanpa tikar

Dan dirimu bukanlah kecuali

Kata Mami
Kau akan memakai hak tinggi
yang runcing
sebelah tumit
biar agak cekat-cekit
yang barang tentu buat aku sakit
apalagi kalau kau sambil jinjit

akan tetapi
sama sekali
aku takkan nyeri
sebab dengan beginilah
aku denganmu intim
menikmati injakanmu sana-sini

meski dikeroyok injak
tapi yang ‘kan lebih terasa jejalannya
cumalah pijakanmu.

Menarilah dengan anggun
Soal aku kotor dan ngilu
jangan peduli.

(2013)
MERAH MARAH-MARAH DI INDUK PASAR
(belasungkawa dibakarnya Pasar Induk Cianjur)

Pagi-pagi buta
Merah singgah di pasar kami
dengan marah-marah

Cakap hansip,
Merah awalnya hendak bertamu lebih siang
pada jam 13 lah kira-kira
biar agak sopan dan tidak merepotkan
juga agar tidak teramat rakus pada susuguh
biar lebih kekeluargaan.
Ini kan hal yang riskan.

Tapi seisi pasar sangsi
Pada -yang katanya- kekeluargaan ini
kemudian niat Merah
diludahi mentah-mentah
dengan guyonan pongah

Ludah mereka lalu menukik
mendarat, tiba, dan  hinggap di dagu sang Merah
Sontak saja ia murka
dan menyobek berbundel-bundel kertas kekeluargaan
yang mestinya menjadi topik bercakap
Agar penghuni pasar mau mengecap.

Sekarang Merah meramu cara meracik licik;
Dipanggilnya Bensin,
Dikonteknya Zippo,
Angin dikabari,
Damkar diamplopi,
Selokan dikuras dan disurutkan,
Kemudian memandati berkotak-kotak batang korek.
Mereka kini bersekongkol
Merah bakal jadi aktor menonjol
Di masing-masing jidatnya muncul tanduk serupa Piccollo
Tanda leburnya belas kasihan.

“kita harus main cantik”
Tekan Merah menguatkan mental pasukan
“nila setitik rusak susu sebelanga, tidak musti harus terjadi”
Merah mengepalkan tinju amat Pede.

Dua dini hari
Merah yang dilumur Bensin
dipelantingkan angin ke tengah induk pasar
Ia berguling-guling menggelinjang
Dari sakunya,
berloncatan korek yang pura-pura terbakar
meloncat kesana-kemari.
baru saja jam berdetak beberapa degup
merah sudah jumawa saja ongkang-ongkang kaki
dikipasi angin.

Sayur hasil panen
Jadi gagal jual
Sembako hangus bersama toko
Kelontong melolong minta tolong

Penghuni pasar kaweur
Beradu badan berpunggu dagu
Tangis tumpah ruah
di segala sudut.
Ada yang mengumpat,
Ada yang berteriak
Ada juga yang menonton saja
-lu kire sepak bola-

Sedang Damkar
yang tepat waktu untuk telat
bercakap
“jalanan macet, dan sungai daerah sini jauh sekali”

Alah, bilang saja segala sudah terkonsep, Bung!

(27 Agustus 2013)