DALAM KEMENDUNGAN KABUT MESIU PALESTINA
Ahmad Ginanjar
Ahmad Ginanjar
Ada
yang terampas, tersegel,
Dan
terbatasi.
Hak
yang bukan hanya sekedar hak,
Sebab
segenap hak
lebur
oleh satu hak mungkar
ada
yang tergerus.
tanah
pijakan,
tanah
yang bukan semakna batas
melainkan
satu depa tanah
meliputi
berdepa-depa tanah harga diri.
Gaza.
Ada
yang belum habis diseka
Tumpahan
air mata yang terlanjur menggenang
Seperti
genangan lumpur dosa para perampas.
Air
mata para dara, wanita, dan baya
isaknya
yang melengking ngilu,
tak
ada yang menggubris
dalam
balutan kemendungan mesiu
Ada
yang belum akan nyaman
Bocah-bocah
Palestina baru tumbuh gigi
yang
berlari kesana kemari
Meloncati
letusan granat,
Melintasi
padang ranjau siap ledak
Atau
yang was-was berlari diburu senapan.
Keji!
Sedang
mereka cuma menggenggam batuan.
buat
melempar mengingatkan para pemburu,
bahwa
mereka hanyalah bocah.
Masih
ada yang belum akan nyenyak
Pada
malam-malam yang kebanyakan kita berselimut hangat
Dan
bersamak.
Sementara
para abi terjaga sangsi
kalau-kalau
anak dan uminya berpindah tangan.
Saban
kali ia menengadah pada Sang Dekat
Memaksa
minta pertolongan dan pembebasan padanya.
Ada
yang belum akan surut
Obor
yang meletup-letup
Diburu-memburu
di jurit menodong-nodong senjata
semata
bukan melancarkan pembelaan,
Tapi
zihad! Zihad akhi!
Kehabisan
darah
Hingga
nyawa raib di medan perang untuk negri
Adalah
surga.
Ada
yang belum aku bisa terima sebagai Aku.
kepicikan
siasat Israel ngeyel.
Mengapa
lonceng gereja berani-berani meniadakan azan?
Mengapa
bocah dan perempuan menjadi korban perang?
Mengapa
mesti membakar sebagian banyak sekolah, rumah sakit, dan rumah Allah?
Semoga
tak ada satupun yang mengecap bau surga buat para perampas.
(Ramadan,
2013)
*Masuk dalam buku antologi bersama yang berjudul "Darah di Bumi Syuhada"
*Masuk dalam buku antologi bersama yang berjudul "Darah di Bumi Syuhada"