Kamis, 06 Februari 2014

Puisi "Dalam Kemendungan Kabut Mesiu Palestina" Karya Ahmad Ginanjar

DALAM KEMENDUNGAN KABUT MESIU PALESTINA
Ahmad Ginanjar

Ada yang terampas, tersegel,
Dan terbatasi.
Hak yang bukan hanya sekedar hak,
Sebab segenap hak
lebur oleh satu hak mungkar

ada yang tergerus.
tanah pijakan,
tanah yang bukan semakna batas
melainkan satu depa tanah
meliputi berdepa-depa tanah harga diri.
Gaza.

Ada yang belum habis diseka
Tumpahan air mata yang terlanjur menggenang
Seperti genangan lumpur dosa para perampas.
Air mata para dara, wanita, dan baya
isaknya yang melengking ngilu,
tak ada yang menggubris
dalam balutan kemendungan mesiu

Ada yang belum akan nyaman
Bocah-bocah Palestina baru tumbuh gigi
yang berlari kesana kemari
Meloncati letusan granat,
Melintasi padang ranjau siap ledak
Atau yang was-was berlari diburu senapan.
Keji!
Sedang mereka cuma menggenggam batuan.
buat melempar mengingatkan para pemburu,
bahwa mereka hanyalah bocah.

Masih ada yang belum akan nyenyak
Pada malam-malam yang kebanyakan kita berselimut hangat
Dan bersamak.
Sementara para abi terjaga sangsi
kalau-kalau anak dan uminya berpindah tangan.
Saban kali ia menengadah pada Sang Dekat
Memaksa minta pertolongan dan pembebasan padanya.

Ada yang belum akan surut
Obor yang meletup-letup
Diburu-memburu di jurit menodong-nodong senjata
semata bukan melancarkan pembelaan,
Tapi zihad! Zihad akhi!
Kehabisan darah
Hingga nyawa raib di medan perang untuk negri
Adalah surga.

Ada yang belum aku bisa terima sebagai Aku.
kepicikan siasat Israel ngeyel.
Mengapa lonceng gereja berani-berani meniadakan azan?
Mengapa bocah dan perempuan menjadi korban perang?
Mengapa mesti membakar sebagian banyak sekolah, rumah sakit, dan rumah Allah?
Semoga tak ada satupun yang mengecap bau surga buat para perampas.

(Ramadan, 2013)

*Masuk dalam buku antologi bersama yang berjudul "Darah di Bumi Syuhada"