Bukan baru-baru ini aku tahu betul kau tak suka sajak. Barangkali sebab sajak sulit buat kaupahami, makna yang dibawanya menguap bersama kata-kata yang sulit kausambung menjadi makna sebenarnya. Makanya aku ingin belajar menulis sesuatu yang paling sederhana. Yang tidak rumit macam rumus-rumus dalam Kalkulus.
Begini, kau bukanlah huruf ke-18 pertama yang bikin aku kasmaran dan yang tidak (atau belum, seperti katamu) bisa kumiliki. Aku kerap salah, kalah, dan payah jika kasmaran pada wanita berawal huruf ke-18. Lebih-lebih aku kalah olehmu.
Aku memang agak berlebihan dalam mengagumimu, barangkali sebab kau adalah tipikal wanita yang sedang kucari-cari. Unik dan lugas. Aku katakan pada beberapa kawanku kalau ini kali kedua aku berlebihan dalam mencinta seorang wanita. "Untuk siapa aku mengingau setiap malam?" Kamu, iyaaa kamu.
Dan ini serius, kalau saja ketika kau kehilangan kabar dariku dalam seminggu itu kaukabari aku terlebih dahulu, mungkin aku tak berpikir kalau kau tidak tertarik pada saat itu.
Yang menyenangkan aku bisa sedekat ini denganmu, walau tentunya kau risih bisa sedekat denganku saat ini. Yang paling perih adalah keterlambatanku. Sialan dengan kata prinsip. Kalau aku menungguimu hingga masa kau menjaga prinsipmu itu kelarpun belum tentu kau mau denganku kan?
Tentang prinsip ini, kau hanya berjanji pada dirimu dan kawanmu (?) yang satu itu bukan?. Kalau benar kau pernah suka (masihkah?) pada si Aku si cungkring ini, kau bisa batalkan prinsipmu itu. Pertama kau tinggal meminta izin pada dirimu sendiri lalu menerimaku. Kedua, kau bilang dan minta maaf pada kawan yang janji tentang prinsip ini. Resikonya paling kau hanya kena satu tampar darinya sebagai balas dari pembatalan prinsipmu. Aku pikir ini tidak mengapa, sebab iapun takkan sekuat tenaga menamparmu. Dan memang begitu kesepakatan kalian, bukan?
Adalah benar, kau adalah wanita yang diinginkan banyak lelaki. Aku ada dalam kerumunan yang mengerubutimu.
Kau tahu "kabungbuleungan" kan? dan jangan pikir ini lucu. Jangan.
Kalau bisa bersamamu, sudah kubayangkan aku akan menjadi lelaki yang lebih baik sebelumnya. Itu yang paling aku mau.
Begini saja, beri aku kejelasan. "A, tetaplah tinggal sebab aku akan menerimamu" atau "Maaf A, mundurlah sebab aku tak menginginkanmu". Aku menunggu pilihan mana yang kan kaukirim pada si Kerempeng ini (sebab aku punya lebih dari dua julukan). Aku tunggu.