bicara rindu,
barangkali ia adalah bilangan yang takkan habis digenapkan
ia akan terus ganjil dan mengganjal.
bicara rindu,
barangkali aku sama payahnya
ketika harus bertahan dalam kumparan puyuh
sementara tak ada yang tersisa dari yang sekuat tenaga itu
segala poranda, semua terporak-porak.
barangkali rindu
hanya ia, yang tengadah menagih temu berkali-kali
seperti lintah darat penagih hutang
tak ada senja yang ia tak sambangi
hanya untuk membayangi
aku.
sedang aku, sudah tak punya apapun lagi
aku miskin, sayang.
bukankah kubilang bahwa segala sudah porakporanda merata tanah
sesering kau menagih
sesering itu jua aku menyanggah
kalau aku sudah miskin lagi payah
bagaimana kalau kita bikin kesepakatan,
aku keluar dari sembunyi
setelah temu, segala rindu musti lunas
sepakat?
(2014)
Sabtu, 20 Desember 2014
Sabtu, 14 Juni 2014
Ada Yang Musti Kaubaca dan Kauputuskan
Bukan baru-baru ini aku tahu betul kau tak suka sajak. Barangkali sebab sajak sulit buat kaupahami, makna yang dibawanya menguap bersama kata-kata yang sulit kausambung menjadi makna sebenarnya. Makanya aku ingin belajar menulis sesuatu yang paling sederhana. Yang tidak rumit macam rumus-rumus dalam Kalkulus.
Begini, kau bukanlah huruf ke-18 pertama yang bikin aku kasmaran dan yang tidak (atau belum, seperti katamu) bisa kumiliki. Aku kerap salah, kalah, dan payah jika kasmaran pada wanita berawal huruf ke-18. Lebih-lebih aku kalah olehmu.
Aku memang agak berlebihan dalam mengagumimu, barangkali sebab kau adalah tipikal wanita yang sedang kucari-cari. Unik dan lugas. Aku katakan pada beberapa kawanku kalau ini kali kedua aku berlebihan dalam mencinta seorang wanita. "Untuk siapa aku mengingau setiap malam?" Kamu, iyaaa kamu.
Dan ini serius, kalau saja ketika kau kehilangan kabar dariku dalam seminggu itu kaukabari aku terlebih dahulu, mungkin aku tak berpikir kalau kau tidak tertarik pada saat itu.
Yang menyenangkan aku bisa sedekat ini denganmu, walau tentunya kau risih bisa sedekat denganku saat ini. Yang paling perih adalah keterlambatanku. Sialan dengan kata prinsip. Kalau aku menungguimu hingga masa kau menjaga prinsipmu itu kelarpun belum tentu kau mau denganku kan?
Tentang prinsip ini, kau hanya berjanji pada dirimu dan kawanmu (?) yang satu itu bukan?. Kalau benar kau pernah suka (masihkah?) pada si Aku si cungkring ini, kau bisa batalkan prinsipmu itu. Pertama kau tinggal meminta izin pada dirimu sendiri lalu menerimaku. Kedua, kau bilang dan minta maaf pada kawan yang janji tentang prinsip ini. Resikonya paling kau hanya kena satu tampar darinya sebagai balas dari pembatalan prinsipmu. Aku pikir ini tidak mengapa, sebab iapun takkan sekuat tenaga menamparmu. Dan memang begitu kesepakatan kalian, bukan?
Adalah benar, kau adalah wanita yang diinginkan banyak lelaki. Aku ada dalam kerumunan yang mengerubutimu.
Kau tahu "kabungbuleungan" kan? dan jangan pikir ini lucu. Jangan.
Kalau bisa bersamamu, sudah kubayangkan aku akan menjadi lelaki yang lebih baik sebelumnya. Itu yang paling aku mau.
Begini saja, beri aku kejelasan. "A, tetaplah tinggal sebab aku akan menerimamu" atau "Maaf A, mundurlah sebab aku tak menginginkanmu". Aku menunggu pilihan mana yang kan kaukirim pada si Kerempeng ini (sebab aku punya lebih dari dua julukan). Aku tunggu.
Begini, kau bukanlah huruf ke-18 pertama yang bikin aku kasmaran dan yang tidak (atau belum, seperti katamu) bisa kumiliki. Aku kerap salah, kalah, dan payah jika kasmaran pada wanita berawal huruf ke-18. Lebih-lebih aku kalah olehmu.
Aku memang agak berlebihan dalam mengagumimu, barangkali sebab kau adalah tipikal wanita yang sedang kucari-cari. Unik dan lugas. Aku katakan pada beberapa kawanku kalau ini kali kedua aku berlebihan dalam mencinta seorang wanita. "Untuk siapa aku mengingau setiap malam?" Kamu, iyaaa kamu.
Dan ini serius, kalau saja ketika kau kehilangan kabar dariku dalam seminggu itu kaukabari aku terlebih dahulu, mungkin aku tak berpikir kalau kau tidak tertarik pada saat itu.
Yang menyenangkan aku bisa sedekat ini denganmu, walau tentunya kau risih bisa sedekat denganku saat ini. Yang paling perih adalah keterlambatanku. Sialan dengan kata prinsip. Kalau aku menungguimu hingga masa kau menjaga prinsipmu itu kelarpun belum tentu kau mau denganku kan?
Tentang prinsip ini, kau hanya berjanji pada dirimu dan kawanmu (?) yang satu itu bukan?. Kalau benar kau pernah suka (masihkah?) pada si Aku si cungkring ini, kau bisa batalkan prinsipmu itu. Pertama kau tinggal meminta izin pada dirimu sendiri lalu menerimaku. Kedua, kau bilang dan minta maaf pada kawan yang janji tentang prinsip ini. Resikonya paling kau hanya kena satu tampar darinya sebagai balas dari pembatalan prinsipmu. Aku pikir ini tidak mengapa, sebab iapun takkan sekuat tenaga menamparmu. Dan memang begitu kesepakatan kalian, bukan?
Adalah benar, kau adalah wanita yang diinginkan banyak lelaki. Aku ada dalam kerumunan yang mengerubutimu.
Kau tahu "kabungbuleungan" kan? dan jangan pikir ini lucu. Jangan.
Kalau bisa bersamamu, sudah kubayangkan aku akan menjadi lelaki yang lebih baik sebelumnya. Itu yang paling aku mau.
Begini saja, beri aku kejelasan. "A, tetaplah tinggal sebab aku akan menerimamu" atau "Maaf A, mundurlah sebab aku tak menginginkanmu". Aku menunggu pilihan mana yang kan kaukirim pada si Kerempeng ini (sebab aku punya lebih dari dua julukan). Aku tunggu.
Sabtu, 24 Mei 2014
Sekembalinya Aku, Semoga Kau Masih Ada.
Belakangan ini, aku sedang dilanda kemalasan yang tidak bisa digolongkan dalam kata sedikit. Malam yang menjadi pagi, kini kembali ke awal. Tidak ada keheningan di luar jendela, dalam kamar, apalagi dalam kepalaku. Segalanya penuh dan siap tumpah. Segalanya tak pernah berembuk tentang siapa dulu yang musti aku urusi. Semuanya terlalu terburu-buru keluar hingga aku kewalahan mengatur. Semua jadi ngawur.
Wangi juga pahit kopi sudah tidak berdaya menyumbat bosan dan mengundang kesan. Kopi jadi kurang sedap dicicip.
Belum lagi, satu wajah kini menjadi aktor paling utama di rumah kepalaku. Kamu. Oke, aku panggil wanita. wanita yang aneh dan nyeleneh, tapi aku kepincut meski pertama kalinya bertatap, dan meskipun bertemu dalam kekalahan (tim saya). Tak masalah, yang paling penting saya sedang kasmaran pada wanita ini. Dan nyatanya kepalaku, kotak pesanku, dan ruangan tengah tubuhku, kerap penuh oleh rupa wanita ini. Aku tak keberatan sama sekali, lama-lamalah menginap dalam hidupku, kalau perlu menetaplah.
Aku juga sedang mengosongkan isi kepala yang awalnya tak pernah niat aku singkirkan, tapi tentulah agar kau bisa leluasa masuk kepalaku tanpa sungkan dan berdesak-desakkan.
Setelah ada kau, aku jadi jarang bosan. Dengan kata lain, kau menyelamatkanku dari kebosanan. Terima kasih.
Sekarang, tinggal bagaimana aku bersikeras menumpas-habis malas, biar hidup tak terus-terusan lemas.
Cianjur, 24 Mei 2014
Kamis, 06 Februari 2014
Puisi "Dalam Kemendungan Kabut Mesiu Palestina" Karya Ahmad Ginanjar
DALAM KEMENDUNGAN KABUT MESIU PALESTINA
Ahmad Ginanjar
Ahmad Ginanjar
Ada
yang terampas, tersegel,
Dan
terbatasi.
Hak
yang bukan hanya sekedar hak,
Sebab
segenap hak
lebur
oleh satu hak mungkar
ada
yang tergerus.
tanah
pijakan,
tanah
yang bukan semakna batas
melainkan
satu depa tanah
meliputi
berdepa-depa tanah harga diri.
Gaza.
Ada
yang belum habis diseka
Tumpahan
air mata yang terlanjur menggenang
Seperti
genangan lumpur dosa para perampas.
Air
mata para dara, wanita, dan baya
isaknya
yang melengking ngilu,
tak
ada yang menggubris
dalam
balutan kemendungan mesiu
Ada
yang belum akan nyaman
Bocah-bocah
Palestina baru tumbuh gigi
yang
berlari kesana kemari
Meloncati
letusan granat,
Melintasi
padang ranjau siap ledak
Atau
yang was-was berlari diburu senapan.
Keji!
Sedang
mereka cuma menggenggam batuan.
buat
melempar mengingatkan para pemburu,
bahwa
mereka hanyalah bocah.
Masih
ada yang belum akan nyenyak
Pada
malam-malam yang kebanyakan kita berselimut hangat
Dan
bersamak.
Sementara
para abi terjaga sangsi
kalau-kalau
anak dan uminya berpindah tangan.
Saban
kali ia menengadah pada Sang Dekat
Memaksa
minta pertolongan dan pembebasan padanya.
Ada
yang belum akan surut
Obor
yang meletup-letup
Diburu-memburu
di jurit menodong-nodong senjata
semata
bukan melancarkan pembelaan,
Tapi
zihad! Zihad akhi!
Kehabisan
darah
Hingga
nyawa raib di medan perang untuk negri
Adalah
surga.
Ada
yang belum aku bisa terima sebagai Aku.
kepicikan
siasat Israel ngeyel.
Mengapa
lonceng gereja berani-berani meniadakan azan?
Mengapa
bocah dan perempuan menjadi korban perang?
Mengapa
mesti membakar sebagian banyak sekolah, rumah sakit, dan rumah Allah?
Semoga
tak ada satupun yang mengecap bau surga buat para perampas.
(Ramadan,
2013)
*Masuk dalam buku antologi bersama yang berjudul "Darah di Bumi Syuhada"
*Masuk dalam buku antologi bersama yang berjudul "Darah di Bumi Syuhada"
Jumat, 31 Januari 2014
MENETAS JUGA!
Alhamdulillah, setelah bertarung berwindu-windu mengalahkan malas, akhirnya saya menang dan menetaslah "Toilet Kata" yang akan menjadi tempat istirah dan semedi saya.
Alasan mengapa harus "Toilet Kata", tidak jauh sebab toilet adalah tempat saya menghabiskan berjam-jam untuk menjaring apa saja yang sekiranya dapat menjadi sesuatu yang bermanfaat dan menghasilkan. Di sana saya menyusun siasat, membangun mimpi, menjala kata-kata, melamunkan seseorang, atau berlenggak-lenggok mengatur laku sebelum menemui kekasih. Toilet adalah tempat sakral bagi segala aspek kehidupan saya. Terlalu riskan kalau toilet ditiadakan atau sekadar disisihkan dari kehidupan saya.
Jadi saya ingin berbagi apa saja yang saya lahirkan dari bertapa di toilet, kemudian saya pamerkan di "Toilet Kata" ini. Saya mengharapkan apresiasi sedalam-dalamnya, setinggi-tingginya, dan yang paling tulus. Selamat menyelami dan menikmati.
Salam.
Salam.
-Ahmad Ginanjar Sastradiredja-
Langganan:
Postingan (Atom)